Kategori
Edukasi Kesehatan

Gangguan Lambung

Banyak sekali orang yang saya jumpai mengeluhkan gangguan Lambung, sampai terkesan kalau ybs adalah Pakar Penderita Sakit Maag, karena ia kenal semua obat-obat Maag yang digunakan dokter. Ada juga yang merasa sakit Maag memang sudah menjadi nasibnya, “saya sudah biasa kumat Maagnya, nanti juga hilang sendiri”.

Mohon Maaf kalau saya sering menegor mereka yang sakit Maag sebagai “Sakit buatan sendiri”, mari kita simak bagaimana seseorang bisa sakit Maag.

Maag bertugas mencerna makanan secara kimiawi lewat kandungan Asam Lambung dan enzym pencernaan spt Pepsin, Gastridin. Mencerna secara Mekanik menjadi tanggung jawab Rongga mulut kita yang Tuhan tanami Gigi-geligi untuk memotong, menggiling makanan sampai cukup halus untuk diteruskan ke Lambung saat kita menelan. Nah di sinilah Masalah mulai terjadi. Banyak orang makan terburu-buru, makan sambil baca HP, makan sambil mengobrol, sehingga Makanan hanya sekedarnya dikunyah, lalu ditelan. Lambung yang tidak mempunyai Gigi-geligi disuruh melanjutkan makanan yang masih kasar itu. Tentulah dibutuhkan waktu lebih lama makanan mampir di Lambung untuk dicerna sampai halus.

Makanan yang mampir lama di Lambung akan menimbulkan Gas lebih banyak. Kalau orang banyak bertahak sesudah makan, itu tanda gasnya berlebihan tersimpan di Lambung. Makanan yang banyak + Gas Lambung + minum banyak air saat makan, membuat volume Lambung mekar melebihi normalnya, sehingga daya cerna lewat Peristaltik Lambung akan menurun. Hal ini menambah beban kerja Lambung bertambah berat.

Dari gambaran di atas, kita mestinya mulai memahami betapa Lambung kita tersiksa karena kesalahan cara makan kita. Masalah ini masih terus ditambah lagi dengan cara kita menangani gangguan Maag yang ada seperti rasa panas, nyeri/perih lambung. Kita memberi label gangguan tersebut sebagai “Kelebihan Asam Lambung”, sehingga mulailah Asam Lambung dijadikan Musuh. Kita memperlakukan sang musuh itu dengan Menetralisir asam lambung dengan obat Antasida. Awalnya obat antasida terasa bekerja dengan baik karena Maag menjadi Adem. Namun Maag kita memang Tuhan rancang pH nya harus asam supaya bisa mencerna Protein dan membuat bakteri tidak bisa lewat memasuki Usus. Karena obat Antasida membuat pH naik, tubuh akan membuat produksi Asam Lambung lebih banyak supaya pH Lambung kembali asam sebagaimana mestinya. Kita meningkatkan konsumsi obat yang lebih keras yang dikenal sebagai Proton Pump Inhibitor (PPI) yang bekerja mengurangi produksi asam lambung. Akibatnya daya mencerna makanan, terutama Protein, makin terganggu, pembusukan protein oleh bakteri meningkat, gas dan toksin di dalam usus meningkat dan keseimbangan kuman/flora usus normal di usus menjadi terganggu, lalu mulailah terjadi proses lainnya yang mengganggu keseluruhan kesehatan. 

Kesimpulan: Bila kita tidak memperbaiki Cara kita Makan, obat semahal apapun tidak akan menyembuhkan gangguan lambung anda.

Cobalah perbaiki cara makan demikian ini:

– Kunyah baik-baik makanan sampai kerongkongan cukup nyaman menelannya. Ada pakar yang mengingatkan banyaknya mengunyah dengan banyaknya gigi manusia, 32.

– Buat suasana makan nyaman sehingga kita tidak terburu-buru, tidak tegang, tidak terdistraksi keseimbangan sistem saraf simpatis-parasimpatis.

– Makan dalam jumlah porsi secukupnya, sesuai dengan kebutuhan aktivitas kita. Jangan makan sampai merasa kekenyangan.

– Jangan minum air dalam jumlah banyak pada saat makan. minum cukup untuk membersihkan sisa makanan di mulut dan tenggorokan. Minum air setelah 3-4 jam setelah makan.

– Jangan menambah gas di Lambung karena makan sambil mengobrol, merokok sesudah makan, konsumsi makanan/ minuman/obat yang menghasilkan gas di Lambung.

– Jangan mudah menelan obat-obat anti nyeri, khususnya golongan NSAID yang bisa menipiskan lapisan pelindung Lambung sehingga Lambung mudah terganggu asam lambung yang ada.

– Perhatikan campuran makanan: Buah-buahan lebih cepat dicerna, sebaiknya makan buah sebelum makan, bukan sesudah makan. Karbohidrat dan Protein membutuhkan pH Lambung yang berbeda untuk dicerna. Sebaiknya jangan makan keduanya dalam porsi sama beratnya. Pagi/Siang hari kita lebih butuh Karbohidrat untuk beraktivitas. Malam  hari kita lebih butuh Protein untuk mereparasi sel-sel yang rusak. Dengan memperhatikan hal ini, kita makan dengan lebih sadar dan bertujuan.