Kategori
Edukasi Kesehatan

Perihal Donor Darah

Seorang teman saya menceritakan kalau ia ditolak untuk mendonorkan darahnya kali ini karena masih ada batuk-batuk. Saya katakan, “Ya wajarlah, kamu sendiri sedang membutuhkan darah untuk memulihkan diri sehingga tidak diijinkan donor darah dulu.”  Teman saya menjawab: “Ada yang bilang justru perlu donorkan darah untuk membuang darah kotor dan dibuat lagi darah yang baru dan segar. Kalau saya habis donor darah, beneran rasanya tubuh lebih sehat.”  Saya terperangah dengan konsep seperti itu. Spontan saya katakan: “Kalau demikian, kamu memberikan sampah kepada para penerima darah dong?”

Rupanya banyak orang melakukan donor darah karena ia merasa lebih segar setelahnya dan menganggap kalau darah yang ia keluarkan itu sebagai “darah kotor”. Sesungguhnya membuat sel darah merah itu bukanlah hal sederhana. Ada proses yang rumit melibatkan sumsum tulang, hormon Erythropoietin dari ginjal untuk menstimulasi pabrik sel darah merah menghasilkan sel darah merah yang baru, belum lagi melibatkan sistem pencernaan dalam menyediakan bahan baku membuat sel darah merah seperti Protein, zat besi, bahan perantara seperti Transferin, Ferritin, dll. Jadi jauh kiranya kalau melihat darah itu sebagai bahan sampah yang mesti dibuang. Bagi orang normal saja darah itu begitu berharga, apalagi bagi orang yang mengalami banyak perdarahan sehingga perlu donasi darah dari luar tubuhnya. 

Pada setiap donasi darah, bagi Pria dibutuhkan 12 minggu jeda untuk donasi berikutnya, dan bagi Wanita perlu jeda 16 minggu, supaya kadar Hemoglobin tidak sampai turun. Sekali lagi, Darah itu begitu berharga, jangan dibuang-buang begitu saja (termasuk oleh mereka yang menganut teknik terapi “keluarkan darah kotor dengan sayatan, supaya penyakit aneka penyakit jadi sembuh”)

Perihal “darah kotor”, Tubuh kita memiliki sistem tersendiri untuk membersihkan darah yang melibatkan organ-organ detox seperti Limpa, Hati, Ginjal, Paru, Kulit. Kalau semua organ tersebut berperan dengan baik, kita tidak perlu khawatir darah kita kotor dan kita menjadi keracunan darah. Jadi jauhkanlah pikiran bahwa Donor darah merupakan suatu cara membersihkan darah lewat pembuangan darah kotor. 

Dukunglah kesehatan darah kita dengan mengkonsumsi Makanan segar alamiah yang kaya Nutrisi, kaya Antioksidan, jauhkanlah bahan-bahan kimiawi pewarna, pengawet, perasa buatan, jangan menjadi pecandu obat (sedikit-sedikit telan obat pereda gejala belaka), cukupkan air minum untuk membantu Ginjal membersihkan kotoran, cukupkan serat untuk membantu Usus membersihkan diri. Hentikan racun yang dengan sengaja dimasukkan ke dalam tubuh demi kenikmatan sesaat, seperti Asap Rokok, Alkohol, makanan buatan pabrik yang tidak ada nilai gizinya.

Sehatkan Diri sendiri, supaya bisa menolong orang lain lagi!

Kategori
Edukasi Kesehatan

Gangguan Lambung

Banyak sekali orang yang saya jumpai mengeluhkan gangguan Lambung, sampai terkesan kalau ybs adalah Pakar Penderita Sakit Maag, karena ia kenal semua obat-obat Maag yang digunakan dokter. Ada juga yang merasa sakit Maag memang sudah menjadi nasibnya, “saya sudah biasa kumat Maagnya, nanti juga hilang sendiri”.

Mohon Maaf kalau saya sering menegor mereka yang sakit Maag sebagai “Sakit buatan sendiri”, mari kita simak bagaimana seseorang bisa sakit Maag.

Maag bertugas mencerna makanan secara kimiawi lewat kandungan Asam Lambung dan enzym pencernaan spt Pepsin, Gastridin. Mencerna secara Mekanik menjadi tanggung jawab Rongga mulut kita yang Tuhan tanami Gigi-geligi untuk memotong, menggiling makanan sampai cukup halus untuk diteruskan ke Lambung saat kita menelan. Nah di sinilah Masalah mulai terjadi. Banyak orang makan terburu-buru, makan sambil baca HP, makan sambil mengobrol, sehingga Makanan hanya sekedarnya dikunyah, lalu ditelan. Lambung yang tidak mempunyai Gigi-geligi disuruh melanjutkan makanan yang masih kasar itu. Tentulah dibutuhkan waktu lebih lama makanan mampir di Lambung untuk dicerna sampai halus.

Makanan yang mampir lama di Lambung akan menimbulkan Gas lebih banyak. Kalau orang banyak bertahak sesudah makan, itu tanda gasnya berlebihan tersimpan di Lambung. Makanan yang banyak + Gas Lambung + minum banyak air saat makan, membuat volume Lambung mekar melebihi normalnya, sehingga daya cerna lewat Peristaltik Lambung akan menurun. Hal ini menambah beban kerja Lambung bertambah berat.

Dari gambaran di atas, kita mestinya mulai memahami betapa Lambung kita tersiksa karena kesalahan cara makan kita. Masalah ini masih terus ditambah lagi dengan cara kita menangani gangguan Maag yang ada seperti rasa panas, nyeri/perih lambung. Kita memberi label gangguan tersebut sebagai “Kelebihan Asam Lambung”, sehingga mulailah Asam Lambung dijadikan Musuh. Kita memperlakukan sang musuh itu dengan Menetralisir asam lambung dengan obat Antasida. Awalnya obat antasida terasa bekerja dengan baik karena Maag menjadi Adem. Namun Maag kita memang Tuhan rancang pH nya harus asam supaya bisa mencerna Protein dan membuat bakteri tidak bisa lewat memasuki Usus. Karena obat Antasida membuat pH naik, tubuh akan membuat produksi Asam Lambung lebih banyak supaya pH Lambung kembali asam sebagaimana mestinya. Kita meningkatkan konsumsi obat yang lebih keras yang dikenal sebagai Proton Pump Inhibitor (PPI) yang bekerja mengurangi produksi asam lambung. Akibatnya daya mencerna makanan, terutama Protein, makin terganggu, pembusukan protein oleh bakteri meningkat, gas dan toksin di dalam usus meningkat dan keseimbangan kuman/flora usus normal di usus menjadi terganggu, lalu mulailah terjadi proses lainnya yang mengganggu keseluruhan kesehatan. 

Kesimpulan: Bila kita tidak memperbaiki Cara kita Makan, obat semahal apapun tidak akan menyembuhkan gangguan lambung anda.

Cobalah perbaiki cara makan demikian ini:

– Kunyah baik-baik makanan sampai kerongkongan cukup nyaman menelannya. Ada pakar yang mengingatkan banyaknya mengunyah dengan banyaknya gigi manusia, 32.

– Buat suasana makan nyaman sehingga kita tidak terburu-buru, tidak tegang, tidak terdistraksi keseimbangan sistem saraf simpatis-parasimpatis.

– Makan dalam jumlah porsi secukupnya, sesuai dengan kebutuhan aktivitas kita. Jangan makan sampai merasa kekenyangan.

– Jangan minum air dalam jumlah banyak pada saat makan. minum cukup untuk membersihkan sisa makanan di mulut dan tenggorokan. Minum air setelah 3-4 jam setelah makan.

– Jangan menambah gas di Lambung karena makan sambil mengobrol, merokok sesudah makan, konsumsi makanan/ minuman/obat yang menghasilkan gas di Lambung.

– Jangan mudah menelan obat-obat anti nyeri, khususnya golongan NSAID yang bisa menipiskan lapisan pelindung Lambung sehingga Lambung mudah terganggu asam lambung yang ada.

– Perhatikan campuran makanan: Buah-buahan lebih cepat dicerna, sebaiknya makan buah sebelum makan, bukan sesudah makan. Karbohidrat dan Protein membutuhkan pH Lambung yang berbeda untuk dicerna. Sebaiknya jangan makan keduanya dalam porsi sama beratnya. Pagi/Siang hari kita lebih butuh Karbohidrat untuk beraktivitas. Malam  hari kita lebih butuh Protein untuk mereparasi sel-sel yang rusak. Dengan memperhatikan hal ini, kita makan dengan lebih sadar dan bertujuan.

Kategori
Edukasi Kesehatan

Diet Pikiran

Saya seringkali sampaikan dalam berbagai Seminar Kesehatan tentang Lima Pilar Kesehatan:

1. Makanan-Minuman-Udara yang Sehat

2. Olahraga dan Kebiasaan Sikap Tubuh sehari-hari

3. Istirahat dan Tidur yang cukup

4. Rekreasi dan Relaksasi

5. Pikiran dan Sikap Hidup yang Positif.

Kali ini saya akan menyoroti poin no.5 tentang Pikiran dan Sikap Hidup yang positif.

Kita mungkin sudah sering dengar pepatah “Garbage In, Garbage Out”. Bila dikaitkan dengan poin no.1, biasanya tidak sulit dipahami. Ibarat membuat kue, bila bahan baku murahan, akan dihasilkan kue dengan kualitas yang jauh berbeda dengan kue yang dibuat dengan bahan-bahan pilihan. 

Pikiran kita sesungguhnya juga sama seperti itu. Bila kita masukkan pikiran-pikiran yang negatif, tentu saja hasil yang didapatkan pada Emosi dan sikap hidup kita akan buruk juga. Pada saat kita merasa mulai tidak enak badan, cara kita berpikir akan menentukan perkembangan penyakit itu. Bila kita berpikir, “Waduh saya sakit. Celaka ini, saya jadi tidak bisa bekerja, saya bisa kehilangan pekerjaan, kenapa sih mesti sakit di saat ini… dst”, maka kondisi kita akan makin melemah. “Sudah sakit masih disalahkan pula!”. Sebaliknya bila kita dapat berpikir, “Nah alarm tubuh saya sudah menyala, tanda saya kelebihan beban. Saya perlu jeda istirahat dulu, perbaiki makan dan bantu detox. Saya perlu badan dan pikiran yang fit untuk menyelesaikan tugas-tugas ini.” Hasilnya tentu akan beda. Pada pola pertama kita bereaksi dengan denial / penolakan, tubuh kita akan mengeluarkan hormon dan kimiawi tubuh untuk menghadapi Figh/Flight response, berupa hormon Stress Pada pola kedua kita bereaksi dengan acceptance / penerimaan, tubuh kita akan mengeluarkan hormon terkait rasa sayang akan tubuh kita sendiri seperti Serotonin, Dopamine yang akan membantu pemulihan kesehatan kita.

Sikap Hidup yang positif pada dasarnya memerlukan Dua Sikap ini:

1. BERSYUKUR.  Belajar bersyukur baik situasinyaSmenyenangkan maupun tidak menyenangkan. Dalam situasi yang paling tidak menyenangkan sekalipun kita tetap dapat berpikir:  “Saya bersyukur dapat pengalaman berharga ini, walaupun pahit / mahal akan menjadi investasi saya menjadi semakin bijaksana menghadapi hidup ini.”

2. IKHLAS. Apa yang sudah terjadi tidak dapat kita ulang prosesmya untuk dihindari. Jadi buat apa kecewa, sedih, menyesal berlama-lama? Segera ikhlaskan, jadikan pengalaman berharga supaya tidak terulang, dan jadikan bekal untuk menasihati orang lain supaya tidak mengalami hal serupa.

Orang-orang Bijak memberi Nasihat: “Semua yang benar, semua yang mulia/bernilai, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, PIKIRKANLAH SEMUA ITU.”